![]() |
BATANG KUIS, Faktainews.com | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 1 Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, menjadi sorotan. Pasokan makanan yang dikirim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Paya Gambar pada Jumat (23/10/2026) diduga tidak mencukupi kebutuhan siswa. Sejumlah ompreng disebut dibawa kembali karena jumlah makanan yang tersedia tidak mencukupi.
Berdasarkan keterangan seorang siswa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, kekurangan pasokan tersebut diperkirakan mencapai 300 hingga 500 porsi. Akibatnya, sejumlah siswa tidak mendapatkan jatah MBG yang biasanya dibagikan saat jam istirahat sekitar pukul 09.30 WIB.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan siswa. Mereka mengaku tidak membawa bekal dari rumah karena terbiasa menerima makanan bergizi gratis setiap hari.
“Biasanya setiap hari kami dapat MBG, Om. Hari ini jumlah MBG-nya kurang, akhirnya makanan tersebut dibawa kembali. Padahal, hari ini kami tidak membawa bekal karena mengira makanan tetap dibagikan seperti biasa,” ungkap siswa tersebut.
Terpisah, saat dikonfirmasi awak media pada Jumat (23/10/2026) sekitar pukul 18.35 WIB, Gunawan, guru bagian kesiswaan SMA Negeri 1 Batang Kuis, turut memberikan penjelasan terkait persoalan tersebut.
“Karena jumlah MBG-nya kurang, makanya kami pulangkan, Pak. Lebih baik tidak dapat, Pak,” ujar Gunawan.
Persoalan ini menjadi sorotan serius terhadap kesiapan SPPG Desa Paya Gambar dalam memenuhi kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi seluruh siswa penerima manfaat. Ketepatan pendataan dan penghitungan jumlah porsi merupakan tanggung jawab mendasar penyedia agar distribusi makanan berjalan tepat sasaran dan tidak ada siswa yang terlewatkan.
Jika pasokan terbukti tidak mencukupi hingga sejumlah siswa SMA Negeri 1 Batang Kuis tidak kebagian makanan, maka perencanaan dan mekanisme distribusi patut dievaluasi secara serius. Kekurangan pasokan semestinya dapat diantisipasi melalui pendataan penerima manfaat yang akurat dan penghitungan kebutuhan porsi yang sesuai. Jangan sampai ketidaktepatan perencanaan justru membuat siswa kehilangan jatah MBG yang seharusnya mereka terima.
Pihak SPPG juga perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai jumlah makanan yang dikirim, total kebutuhan siswa, serta penyebab dugaan kekurangan pasokan tersebut. Evaluasi dan perbaikan konkret diperlukan agar persoalan serupa tidak kembali terulang.
{Faktainews.com}
