
DELI SERDANG, Faktainews.com | Banjir bandang Sembahe sempat memukul denyut pariwisata Desa Namo Pakam, Kabupaten Deli Serdang. Aktivitas wisata merosot, citra kawasan ikut tergerus. Namun, upaya pemulihan kini mulai diarahkan bukan hanya pada pembenahan fisik, melainkan juga pada perubahan tata kelola dan citra destinasi.
Universitas Sumatera Utara (USU) mengambil peran melalui program pengabdian kepada masyarakat 2026 dengan pendekatan Community-Based Recovery Tourism. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial-ekonomi warga sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap Namo Pakam sebagai kawasan wisata.
Program tersebut dipimpin Samerdanta Sinulingga, S.ST.Par., M.Par. Menurut tim, tantangan Namo Pakam bukan semata kerusakan dan trauma akibat bencana. Kawasan itu juga menghadapi persoalan citra, termasuk munculnya stigma mengenai dugaan praktik pungutan liar atau pungli.
Dalam siklus pariwisata, kondisi Namo Pakam bahkan dinilai telah memasuki fase decline. Karena itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas. Citra destinasi, tata kelola, promosi, dan kesiapan masyarakat juga harus dibenahi.
Salah satu strategi yang ditempuh USU adalah melakukan rebranding melalui media sosial.
Akun Instagram destinasi yang sebelumnya dimulai dari nol pengikut disebut berhasil mencapai sekitar 16 ribu pengikut dalam waktu kurang lebih satu bulan. Jangkauan tertingginya mencapai sekitar 243 ribu tayangan.
Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa perhatian publik terhadap Namo Pakam mulai kembali.
“Ketertarikan publik mulai kembali tumbuh. Di media sosial, calon konsumen sudah berulang kali menanyakan kapan lokasi ini akan resmi dibuka,” kata Ketua Tim Pengabdian USU, Samerdanta Sinulingga.
Bagi tim pengabdian, tingginya interaksi digital tersebut menunjukkan bahwa Namo Pakam masih memiliki daya tarik. Pekerjaan berikutnya adalah mengubah perhatian di layar menjadi kunjungan langsung ketika pembenahan kawasan rampung.
Program pengabdian tersebut sekaligus menegaskan posisi perguruan tinggi dalam pembangunan desa.
USU tidak menempatkan diri sebagai kontraktor pembangunan fisik. Peran akademisi lebih diarahkan pada manajemen, edukasi, pendampingan, inovasi, dan penguatan motivasi masyarakat.
Dengan keterbatasan anggaran program pengabdian, USU memilih menggunakan modal lain: reputasi akademik, jejaring, dan citra positif institusi untuk membuka akses kepada investor serta mitra strategis.
Jaringan tersebut diharapkan dapat membantu menghadirkan dukungan investasi untuk pengembangan fisik kawasan wisata Namo Pakam.
Tim pengabdian yang terdiri atas Drs. Jhonson Pardosi, M.Si., Ph.D., Jonathan L. Marpaung, S.Si., M.Si., dan Safrizal Fazli Tarigan, S.E., M.Si., secara berkala melakukan pendampingan melalui pertemuan teknis, diskusi, dan berbagi pengetahuan bersama masyarakat serta pelaku wisata.
Pendampingan itu menyasar persoalan yang lebih mendasar: kesiapan warga memasuki industri pariwisata.
Mayoritas masyarakat Namo Pakam selama ini menggantungkan penghasilan sebagai petani. Perubahan menuju ekonomi wisata menuntut kemampuan baru, mulai dari pelayanan wisatawan hingga pengelolaan usaha dan destinasi.
Upaya mendatangkan investor juga menghadapi sejumlah hambatan. Kekhawatiran terhadap keamanan, tata kelola, serta stigma pungli menjadi persoalan yang harus dijembatani.
Tim akademisi mengambil peran dalam membangun komunikasi dan negosiasi antara masyarakat, pengelola, dan calon investor. Proses tersebut diarahkan agar berlangsung lebih terbuka sehingga kepercayaan antarpihak dapat tumbuh.
Bagi USU, pemulihan citra tidak cukup dilakukan melalui promosi. Tata kelola harus ikut berubah.
Karena itu, digitalisasi sistem tiket menjadi salah satu instrumen yang disiapkan.
USU menyiapkan sistem digital ticketing mandiri yang dikembangkan melalui adminwisata.com.
Sistem tersebut dirancang untuk membuat pengelolaan tiket lebih terstruktur, transparan, dan dapat diaudit. Pembayaran wisatawan diharapkan tercatat secara digital sehingga ruang bagi transaksi tidak resmi dapat dipersempit.
Digitalisasi ini bukan sekadar soal teknologi. Bagi pengelola, sistem tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan wisatawan.
Setiap transaksi tercatat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, pengelolaan destinasi diarahkan mendekati standar industri pariwisata modern.
Program pengabdian USU juga melibatkan mahasiswa. Juan Prihanda Nainggolan dan Jojor Tiur Trifosa Silitonga antara lain ikut dalam proses pendampingan masyarakat di lapangan.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia sekaligus membantu masyarakat pada tahap awal pengembangan destinasi.
Target akhirnya bukan menjadikan warga sekadar penonton.
Masyarakat diharapkan menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata.
Sistem digital dan operasional penuh masih menunggu penyelesaian pembenahan fisik kawasan oleh pihak desa. Namun, menurut USU, ekosistem pendukung wisata mulai disiapkan.
Jaringan dengan berbagai komunitas dan vendor strategis dibangun, termasuk penyedia jasa event organizer serta perlengkapan camping dan glamping.
Jika seluruh komponen tersebut berjalan sesuai rencana, Namo Pakam tidak sekadar dipulihkan agar kembali ramai. Destinasi itu juga diarahkan memiliki sistem pengelolaan yang lebih profesional.
Bagi warga, kebangkitan pariwisata bukan semata perkara mendatangkan wisatawan. Sektor ini diharapkan menjadi sumber ekonomi baru setelah bencana.
Namo Pakam kini berada di persimpangan: bertahan dengan citra lama atau membangun wajah baru.
USU mencoba mendorong pilihan kedua mengubah stigma menjadi kepercayaan, mengubah perhatian digital menjadi kunjungan, dan mengubah wisata berbasis lokasi menjadi ekosistem ekonomi yang dikelola secara lebih transparan.
Pemulihan Namo Pakam akhirnya bukan hanya soal membangun kembali tempat yang rusak oleh bencana. Lebih dari itu, ia adalah upaya membangun kembali kepercayaan.
Reporter: Jansen.