
Pantai Labu, Faktainews.com | Keluhan warga terhadap aktivitas peternakan CV Putra Jaya Farm di Dusun VI, Desa Pematang Biara, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, kian serius.
Limbah kotoran ternak dari kandang lembu dan kambing disebut mengalir ke area persawahan warga. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada tanaman padi yang kini memasuki masa panen.
Warga berinisial Bu alias Di (35) mengatakan persoalan tersebut berlangsung sejak peternakan beroperasi sekitar satu tahun. Menurut dia, limbah dari kandang mengalir ke sawah terutama ketika ternak dimandikan dan saat hujan turun.
“Setiap mandikan ternak lembunya, air kotorannya masuk ke sawah. Kalau hujan, limbah kotoran dari kandang itu menyebar ke sawah. Baunya juga sangat mengganggu,” ujar Bu.
Menurut Bu, persoalan tersebut tidak hanya menimbulkan bau. Saat memasuki musim tanam, kondisi itu disebut turut membuat sejumlah pekerja tani enggan menggarap persawahan di sekitar peternakan.
“Kalau musim tanam, tidak ada yang mau menanam padi di tempatku karena bau dan jijik. Terpaksa saya sendiri yang menanam karena mereka tidak mau akibat bau dan jijik,” katanya.
Kini, saat memasuki masa panen, Bu mengaku melihat kondisi tanaman padi di lahannya tidak seperti sebelumnya. Ia menyebut sebagian tanaman tumbuh lebih pendek, sementara sejumlah batang padi mengalami pembusukan dan tumbang.
“Akibat limbah kotoran ternak itu, padi tingginya kurang, pendek. Apalagi sekarang musim panen, banyak padi yang batangnya busuk dan banyak yang tumbang. Saya khawatir itu akibat limbah,” ujarnya.
Namun, dugaan adanya kaitan antara limbah peternakan dan kondisi tanaman padi tersebut belum dapat dipastikan. Diperlukan pemeriksaan teknis atau kajian dari instansi berwenang untuk memastikan penyebab kerusakan tanaman.
Bu mengatakan kondisi persawahan sebelum keberadaan peternakan dinilai berbeda. Menurut dia, hasil padi sebelumnya cukup baik dan masih banyak pekerja tani yang bersedia menggarap lahan.
“Dulu sebelum ada ternak ini, lumayan hasil padi kami. Yang menanam padi masih banyak yang mau menanamnya,” ujarnya.
Ia menyebut lahan miliknya sekitar 5 rante. Selain itu, terdapat lahan milik pamannya sekitar 5 rante serta sejumlah lahan persawahan lain di sekitar lokasi yang menurutnya ikut berada di kawasan terdampak.
Namun, ia mengaku sebagian warga memilih tidak menyampaikan keluhan secara terbuka karena khawatir persoalan tersebut menimbulkan masalah dengan pengelola peternakan.
“Mau menyuarakannya takut tidak enak. Mereka pengusaha banyak duit, kami petani apalah daya,” katanya.
Meski mengeluhkan dampak yang dirasakan, Bu menegaskan warga tidak menginginkan usaha peternakan tersebut ditutup. Warga, kata dia, hanya meminta pengelola memperbaiki sistem pengelolaan limbah agar aktivitas peternakan tidak mengganggu persawahan.
Salah satu solusi yang diminta adalah pembangunan pagar atau pembatas di sekitar kandang. Langkah tersebut dinilai dapat mencegah limbah keluar dari area peternakan dan mengalir ke lahan pertanian ketika ternak dimandikan maupun saat hujan.
“Harapan saya tolonglah dipagar biar sama-sama enak,” ujar Bu.
Keluhan tersebut kini menjadi perhatian warga karena menyentuh dua kepentingan sekaligus: keberlangsungan usaha peternakan dan keberlanjutan lahan pertanian masyarakat.
Warga mendesak pemerintah melalui instansi terkait turun langsung ke lokasi untuk memeriksa kondisi peternakan dan persawahan. Pemeriksaan diperlukan untuk melihat sistem pengelolaan limbah, saluran pembuangan, serta potensi dampaknya terhadap lingkungan dan lahan pertanian.
Pemerintah juga diharapkan memeriksa aspek perizinan dan kepatuhan pengelola terhadap ketentuan yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran, warga meminta pemerintah mengambil tindakan sesuai aturan.
Bagi petani, persoalan ini bukan semata soal bau. Sawah merupakan sumber penghidupan yang hasilnya bergantung pada kondisi lingkungan dan tanaman. Karena itu, warga meminta pemerintah tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut hingga berkembang menjadi konflik.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret dari pemerintah dan pengelola CV Putra Jaya Farm. Mereka menginginkan solusi permanen agar peternakan tetap dapat beroperasi, sementara persawahan warga tidak terganggu oleh aliran limbah.
Warga meminta satu hal: usaha tetap berjalan, tetapi jangan sampai sawah yang menjadi sumber penghidupan petani ikut menanggung dampaknya.
{Team/ Faktainews.com}